Peluang Dan Tantangan Dalam Berwirausaha

Oleh : FX Agus*)

Pendahuluan

Masyarakat sekarang sedang terbelenggu dengan masalah pekerjaan. Banyaknya tenaga kerja terdidik yang masih menganggur, membuat setiap kali pemerintah membuka lapangan kerja untuk menjadi PNS, jumlah pelamar jauh melebihi formasi yang tersedia.  Untuk mendapat formulir, orang rela antri mulai tengah malam, berdiri berjam-jam, bahkan sampai ada yang pinsan. Ini membuktikan bahwa orang rela berkorban apa saja demi mendapat pekerjaan apalagi jadi PNS.

Siswa ditekan mendapat nilai yang baik. Ibu-ibu rela mengentarkan putra-putrinya untuk mengikuti les tambahan mata pelajaran tertentu demi mendapat nilai baik dan akhirnya mendapat pekerjaan. Besarnya keinginan untuk mendapat pekerjaan, membuat orang mau bekerja apa saja walaupun tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari waktu dia dia sekolah atau kuliah, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, keadaan ini juga terjadi.

Apa sebenarnya tujuan pendidikan..? Pendidikan bertujuan mengajar seseorang bagaimana cara menghasilkan yang terbaik dari dalam dirinya dan mengembangkan dirinya ketahap yang terbaik sesuai bakatnya.

Celakanya pendidikan di Indonesia diukur dengan tingkat keberhasilan seorang siswa mencapai Indeks Prestasi tinggi akibatnya seorang peserta didik dipacu untuk mencapai Indeks Prestasi yang tinggi tanpa memperhitungkan bakat dan minat peserta didik. Disini peserta didik tidak ambil pusing apakah mata pelajaran atau mata kuliah tersebut bermanfaat apa tidak bagi dirinya. Maka tidak dapat disalahkan apabila setelah menyelesaikan pendidikan, bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari, yang penting mendapat pekerjaan. Lebih parah lagi apabila para pencari kerja tersebut adalah para sarjana yang IP nya tinggi. Lalu siapa yang menyiapkan pekerjaan bagi mereka. Tentu orang-orang yang tidak lulus dari Perguruan Tinggi (drop out) atau kalau toh lulus IP nya hanya pas-pasan. Ini sangat ironis, sarjana yang IP nya tinggi meminta pekerjaan pada orang – orang yang IP nya rendah atau bahkan tidak lulus sama sekali dari Perguruan Tinggi. Ini sangat memalukan, seharusnya Sarjana itu menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan.

Jadi tujuan hari ini tampak seperti untuk mendapat pekerjaan,mencari pekerjaan, PEKERJAAN, PEKERJAAN DAN PEKERJAAN. Apa jenis pekerjaannya tidak masalah. Apakah seseorang menyukai pekerjaan atau tidakpun tidak penting, asal ia bekerja. Ini sering membawa kepada aspek yang satu lagi, yaitu apabila seseorang mendapatkan suatu pekerjaan, ia takut kehilangan. Banyak orang yang mengeluh dan menggerutu dalam pekerjaannya sehingga ingin meletakan jabatan dan memulai usaha sendiri, tetapi disaat yang sama mereka takut kehilangan pekerjaan yang sudah mapan dan nyaman.

Kita tidak dilahirkan untuk bekerja sampai akhir hayat, kita dilahirkan untuk mengembangkan diri sesuai kemampuan dan bakat. Kita seharusnya menikmati kehidupan sesuai batas kemampuan dan bakat. Masalah utama dalam hidup kita bukan bagaimana mendapatkan pekerjaan, pekerjan (mendapat pekerjaan) adalah masalah sementara. Masalah pokoknya sebenarnya adalah uang, karena orang bekerja adalah untuk mencari uang. Dengan itu orang akan memenuhi segala kebutuhannya, jadi pekerjaan hanya sekedar batu loncatan untuk mendapat uang.

 Masalah dan Kesulitan

Pada dasarnya setiap orang memliki masalah, hanya kadarnya yang berbeda-beda. Seorang pemuda sedang mempunyai masalah dengan pacarnya, sementara pemuda lain mengalami kesulitan keuangan. Dan semua orang menginginkan agar bebas dari masalah, persoalan dan kesulitan. Kita berupaya bangkit dari kekecewaan menuju kegembiraan, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan lahir dan bathin.

Masalah kesulitan dan penderitaan itu sebenarnya perlu karena akan memberi peluang untuk menyesuaikannya. Jika kita dapat menyelesaikan masalah sebenarnya bukan sesuatu yang mengerikan. Setiap kali ada masalah sebenarnya disitu terdapat peluang. Tinggal bagaimana kita mampu melihatnya dan menggarapnya menjadi sebuah kesempatan apa tidak..?. kalau melamar menjadi PNS adalah sangat sulit, ini berarti ada peluang untuk mencari pekerjaan diluar PNS, apa itu…? Jawabnya adalah menjadi wirausaha atau menjadi pengusaha.

Krisis ekonomi tahun 1997 menjadikan orang berpikir bagaimana ia hidup yang harus berganti profesi sebagai pengusaha demi mengatasi masalah perekonomian keluarga.

Apabila menjadi PNS amat sulit, bahkan diperlukan syarat-syarat tertentu seperti pendidikan formal, membuat lamaran bahkan magang terlebih dahulu, harus antri untuk mendapatkan formulir, kebanyakan lupa bahwa diluar itu lowongan yang buka 24 jam non stop dan tidak perlu membuat lamaran, yaitu menjadi pengusaha.

Begitu ada keberanian membuka usaha langsung pagi harinya mencetak kartu nama dan langsung jadi direktur perusahaan. Tidak perlu tunggu lama-lama. Disini yang diperlukan adalah keberanian untuk memulai berusaha. Sayangnya baru sedikit orang yang memiliki keberanian itu. Mereka yang memilih hidup sebagai pegawai, biasanya mempunyai alasan tersendiri. Alasan itu setengah folosofi, setengah pasrah dan setengahnya lagi mencerminkan ketidak berdayaan.

 Berwirausaha

Salahkah menjadi pegawai…?

Tentu saja tidak. Ada orang yang sangat menikmati menjadi pegawai. Berangkat dan pulang kerja sudah terjadwal. Keberadaan dirumah bersama keluarga sangat terjamin. Pulang kerja santai, minum teh, stesrnya juga tidak seberapa. Setiap bulan terima gaji, kalau tua mendapat pensiun. Tentu saja jangan berharap kaya, jadi pegawai jatahnya sudah ditentukan.

Menurut Aa Gym, rejeki itu ada dua. Pertama rejeki yang sudah disediakan. Tuhan menciptakan manusia tentu sudah disediakan apa yang menjadi keperluan hidupnya berupa makan dan minum. Tetapi ada rejeki lainnya yaitu rejeki yang dijanjikan. Ini yang harus diupayakan oleh manusia. Seseorang yang kebetulan menjadi pegawai negeri, karena alasan keterpaksaan walaupun minat dan bakatnya dahulu sebenarnya bukan untuk pegawai, apa benar Tuhan menjanjikan rejeki di PNS. Jangan-jangan rejeki yang dijanjikan ada di tempat lain. Entah sebagai pedagang, pengusaha atau yang lain. Ini yang seharusnya diupayakan orang sehingga kebahagiaan dunia dan akhirat tercapai.

Menjadi pengusaha juga bukan hal yang sederhana, apalagi orang tua kita menasehati putra-putrinya dengan nasehat yang sebenarnya membuat anak tidak kreatif dan mampu bersaing dengan orang lain. Anak disuruh rajin belajar agar IP nya tinggi, sehingga kelak menjadi pegawai negeri. Jarang  orang tua mendorong anaknya agar menjadi pengusaha seperti saudara –saudara dari etnis Cina.

Untuk menjdi pengusaha biasanya orang takut gagal, cemas diolok-olok orang, karena budaya kita masih menganggap wiraswasta adalah pekerjaan yang kurang terhormat. Dan yang paling  ditakuti adalah faktor resiko. Karena sekali gagal bagi orang yang tidak berjiwa wirausaha biasanya akan putus asa. Tetapi bagi orang yang berjiwa wiraswasta, gagal merupakan ujian dan sekaligus wahana latihan untuk mengetahui apa yang salah dari kita dan tidak kita ulangi lagi. Jangan mengukur beberapa kali seorang wirausahawan  jatuh tetapi berapa kali dia bangkit. Sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar jatuh atau gagal tetapi dia hanya gagal untuk mencoba lagi. Apabila ia mau mencoba lagi pasti ia tidak gagal. Banyak sekali orang terpelajar yang tidak sukses, hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh.

Huruf aksara Cina kata peluang berasal dari dua kata yang berarti “ krisis atau masalah” dan “ perhimpunan atau pertemuan “. Krisis atau masalah yang berhimpun atau bertemu menghasilkan peluang. Dengan kata lain, kita tidak mungkin mendapat peluang tanpa menghadapi “resiko”.

Jika sudah dirancang dengan teliti dan diatur dengan rapi, dan tidak dilaksanakan dengan efektif tetapi gagal, maka kegagalan itu menandakan perubahan dan dengannya terbuka peluang. Bagi seorang wirausahawan, peluang besar yang aman itu ada. Semakinbesar resiko,semakin bersar peluang karena hanya beberapa orang saja yang berani mencoba,

 Daftar Pustaka

Gymnastiar Abdullah, 2004. Etika Bisnis MQ ; Kejujuran, Kebersihan HAti, Kebermanfaatan, MQ Publising, Bandung.

Hicks,TG, 1994. Sukses merintis bisnis dengan “Modal Dengkul” Alih Bahasa ; T. Dinastindo Adiperkasa International, Penerbit Abdi Tandur, Jakarta.

Kiyosaki, R dan Leachter, 2003. Rich Dad Poor Dad, Alih Bahasa : I. Dwi Helly Purnomo, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Lim, Billi PS, 2003. Berani gagal, alih Bahasa : Suharsono,PT.  Pustaka Delapratosa, Jakarta.

Valentino D, 2004. Jangan Mau Seumur Hidup Menjadi Orang Gajian,Penerbit Lets Go, Jakarta.

 

 

*) Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurusan Penyuluhan Pertanian Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: