KANG TOPO, Jatuh Cinta Pada SRI (System of Rice Intensification)

Tahun 2009, merupakan tahun yang istimewa bagi Topo Budi Santoso atau yang lebih akrab dipanggil Kang Topo. Pasalnya, petani yang berdomisili di Dsn Kruduk, Ds Karangtalun, Kec Imogiri, Bantul itu berjumpa dengan “SRI” yang diperkenalkan oleh penyuluh setempat. Melalui sebuah kegiatan demplot yang dilakukan penyuluh, Kang Topo belajar menanam padi dengan sistem of rice intensification. Berawal dari perjumpaan inilah Kang Topo “jatuh cinta” pada SRI

“Sebenarnya saya sudah lama diberi tahu keponakan saya yang sekarang jadi penyuluh bantu di Sambas Kalbar tentang SRI, tapi saya nggak terlalu percaya, tanam padi kok satu bibit per lubang. Apa nggak mati?. Soalnya saya belum pernah mencoba. Setelah saya mengikuti kegiatan dari penyuluh, saya baru percaya. Sebenarnya saya agak menyesal kenapa ndak dari dulu saya menerapkan SRI”., tutur Kang Topo saat diwawancarai.

Meskipun SRI yang diterapkan Kang topo sudah dimodifikasi sesuai keadaan lahan dan kemampuan Kang Topo, tetapi padi yang ia tanam bisa mencapai produktifitas 8,8 ton/ha saat dilakukan “pengubinan”. Hasil tersebut hampir dua kali lipat dari produktifitas sebelumnya yaitu sekitar 4-5 ton/ha. “Dulu padi saya hanya laku 400 ribu, tapi setelah menerapkan SRI padi saya ditawar 800 ribu”, ujar kang Topo menebar benih padi ke dalam “besek”.

Kang Topo sedang menebar benih padi

Teknologi budidaya tanaman padi SRI yang diterapkan   Kang Topo secara ringkas adalah sebagai berikut:

  1. Pesemaian dilakukan dalam kotak bambu dengan media semai tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Benih diberikan perlakuan perendaman selama 12-24 jam dengan air larutan akar alang-alang dan tauge. Pemeraman dilakukan selama 24-48 jam sampai benih mulai berkecambah.
  2. Pengolahan lahan sempurna dengan bajak dan garu.
  3. Pemberian pupuk dasar dengan kotoran kambing 1,5-2  ton/ha disebarkan setelah selesai dibajak.
  4. Penanaman dengan jarak tanam 30 x 20 cm atau 30 x 30 cm, dengan satu bibit/lubang. Umur bibit 9 hari setelah semai. Air lahan macak-macak.
  5. Setelah 3 hari setelah tanam (hst) sudah bisa diairi. Pengairan selang-seling sampai umur 2 minggu setelah tanam (mst) dan pada umur 40-60 hst.
  6. Penyiangan dilakukan pada umur 4 mst.
  7. Pemupukan susulan I umur 3 mst urea 80 kg/ha, pupuk susulan II umur 35 hst dengan NPK 100 kg/ha.
Proses pesemaian padi oleh Kang Topo

Proses pesemaian padi menggunakan "besek"

Menurutnya penggunaan benih lebih irit karena untuk luasan 500 m2 yang biasanya menghabiskan 5-6 kg benih, sekarang hanya membutuhkan 0,75 kg sampai 1 kg benih. Anakan padi yang dihasilkan lebih banyak yaitu bisa mencapai 40-43 anakan dibandingkan sebelum menerapkan SRI yag hanya 25-30 anakan.

Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menyemai padi lebih efisien. Kang Topo hanya perlu menyiapkan “besek” (kotak dari anyaman bambu) bekas dan media semai (tanah, pasir,  pupuk kandang 1:1:1) untuk menyemai padi. Bibit padi lebih terkontrol dan terjaga keamanannya dari serangan hama karena pesemaian dilakukan di halaman rumah. Pada umur 9 hari padi sudah siap tanam di lahan. (te’o,  2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: